Masa pubertas memang kerap
diwarnai dengan gejolak, karena seorang anak menghadapi perubahan hormonal yang
besar, sehingga mempengaruhi perkembangan secara fisik ataupun psikologis, yang
akhirnya berujung kepada kematangan seksual. Masa pubertas ini memang terjadi
pada masa perkembangan anak menjadi seorang remaja, dan masa ini merupakan
perubahan yang besar, di mana anak dituntut mulai menunjukkan sikap yang
dewasa, sementara ia belum tentu sudah cukup dewasa walaupun secara fisik mulai
menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. Belum lagi perubahan suasana hati yang
kerap menimbulkan gelombang dalam interaksi seorang remaja dengan lingkungan
sekitarnya. Dan hal ini disertai dengan berkembangnya pergaulan anak dengan
kelompok seusianya, dan bahkan mulai melihat teman-teman sebayanya sebagai
pihak yang lebih dibandingkan dengan keluarganya.
PERUBAHAN YANG TERJADI DI AWAL MASA
Pada anak laki-laki dapat dilihat
perubahan pada testikular atau penis, tumbuhnya jakun, tumbuhnya bulu pada
wajah dan daerah kemaluan. Selain itu ada perubahan lain, misalnya suara anak
laki-laki yang membesar, berkembangnya otot sehingga dada menjadi bidang dan
bahu melebar. Selain itu tentunya jerawat dan bau tubuh yang khas. Hal ini
merupakan perubahan fisik yang sangat mudah diamati oleh orang tua untuk
mengetahui apakah sang anak sudah mulai mengalami pubertas atau belum.
Perubahan yang terjadi pada anak perempuan dan anak laki-laki memang berbeda,
dan masing-masing membutuhkan penanganan yang berbeda untuk masalah
perkembangan fisik maupun psikologisnya.
PENDEKATAN ORANGTUA
Secara garis besar, hal yang
dapat dilakukan oleh orangtua kepada anak remajanya, baik anak laki-laki maupun
perempuan, dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan dan pola asuh yang
dapat diterima serta dipahami oleh para anak remaja tersebut. Orangtua dapat
memahami bahwa masa remaja berbeda dengan masa kanak-kanak ditinjau dari
berbagai segi. Untuk menangani dan menghadapi para remaja ini, orangtua
dapat mulai mengubah ataupun menyesuaikan cara mereka melakukan komunikasi
dengan para remajanya. Orangtua juga mulai lebih tegas dalam menetapkan aturan/
disiplin dan memberikan penjelasan yang dapat anak mengerti dari penetapan
aturan tersebut. Orangtua juga dapat mengajak para remajanya untuk lebih kritis
dalam memandang suatu permasalahan, mengajak mereka untuk melakukan banyak
pertimbangan sebelum melakukan tindakan untuk menghadapi masalah yang ada.
Orangtua juga dapat menjelaskan manfaat positif ataupun akibat yang dapat
merugikan dari setiap alternatif penyelesaian masalah yang ada. Selain itu,
yang tak kalah pentingnya, orangtua perlu memberikan penguatan motivasi kepada
para remajanya agar mereka bisa menghadapi masa pubertas ini dengan pandangan
dan sikap yang positif.
FAKTOR
YANG DAPAT MEMPENGARUHI TERJADI PUBERTAS
Faktor
utama yang mempengaruhi terjadinya pubertas adalah faktor keturunan. Ibu yang
mengalami pubertas dini, umumnya dikuti pula dengan pola yang sama oleh anak
perempuannya. Namun demikian ada juga faktor lain yang terlibat di dalamnya,
misalnya masalah nutrisi yang berujung kepada pertumbuhan yang terlalu cepat
atau lambat. Sementara itu bahan kimia atau hormon yang berada dalam makanan
juga bisa berpengaruh pada terjadinya pubertas dini, walaupun memang masih
diteliti secara lebih luas.
Banyak
dijumpai anak dengan masalah obesitas yang cenderung mengalami pubertas dini.
Sementara anak yang banyak berolahraga mengembangkan massa tubuh yang rendah,
sehingga cenderung mencegah pubertas dini. Sementara itu dari sisi perkembangan
psikologis yang menyertai pubertas juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan,
misalnya tontonan dewasa yang kerap muncul di televisi. Hal ini membuat anak
lebih cepat tahu tentang berbagai hal yang harusnya menjadi konsumsi orang
dewasa, sementara itu ia secara mental belum siap mengolahnya secara matang.
Akan mengalami depresi, gangguan perilaku, serta beragam
kelainan psikologis lainnya.
Anak yang
mengalami pubertas dini bisa mengalami dampak positif ataupun negatif. Contoh
dari dampak positif dapat dilihat pada anak
laki-laki dengan pubertas dini yang tentunya mempunyai tampilan fisik lebih
dari teman-temannya. Ia lebih tinggi, lebih besar, lebih kuat. Ia mungkin lebih
populer di antara teman-teman perempuannya, atau lebih dipilih masuk ke dalam
tim olah raga, atau bahkan dipilih menjadi pemimpin kelompoknya. Hal ini bisa
menimbulkan rasa percaya diri yang kuat, juga kemandirian menghadapi berbagai
masalah.
Namun ada
pula konsekuensi negatifnya, karena dengan fisik yang lebih,
ia pun diharapkan menampilkan tingkah laku yang serupa dengan orang dewasa,
termasuk juga tingkah laku yang negatif. Ia bisa jadi menjadi lebih agresif,
sehingga potensial terlibat dalam konflik fisik. Selain itu mungkin saja
terlibat dalam hubungan seks dini, hal yang harusnya belum menjadi konsumsi
seorang remaja.
yang harus dipersiapkan untuk menghadapi masa pubertas.
Untuk
anak perempuan, pubertas dini memang lebih kerap menimbulkan dampak negatif.
Penampilan fisik yang berbeda dengan teman-teman sebaya membuatnya merasa malu
dan berusaha menyembunyikan dirinya dengan segala perkembangan fisiknya. Ada
yang berkembang menjadi gangguan makan, dengan diet yang berlebihan, sementara
pada usia ini nutrisi yang baik akan mendukung perkembangan secara optimal. Ada
pula yang berkembang menjadi gangguan depresi.
Sementara
itu ada juga dampak positifnya karena dengan tubuh yang mendewasa dengan cepat,
umumnya anak perempuan mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya yang lebih
besar. Namun hal ini juga mengandung akibat lainnya, karena ia menjadi
terekspos dengan cepat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seksual,
hal yang dapat berujung pada hubungan seksual dini ataupun kehamilan.
Pada
kedua jenis kelamin ini, mencoba-coba hal negatif, seperti rokok, obat-obatan,
alkohol juga dapat terjadi. Hal ini mungkin diakibatkan oleh tekanan kelompok
yang diikutinya, yang biasanya pun berusia lebih besar.


