Senin, 08 Desember 2014

YANG DILAKUKAN SAAT MENGALAMI PUBERTAS


Masa pubertas memang kerap diwarnai dengan gejolak, karena seorang anak menghadapi perubahan hormonal yang besar, sehingga mempengaruhi perkembangan secara fisik ataupun psikologis, yang akhirnya berujung kepada kematangan seksual. Masa pubertas ini memang terjadi pada masa perkembangan anak menjadi seorang remaja, dan masa ini merupakan perubahan yang besar, di mana anak dituntut mulai menunjukkan sikap yang dewasa, sementara ia belum tentu sudah cukup dewasa walaupun secara fisik mulai menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. Belum lagi perubahan suasana hati yang kerap menimbulkan gelombang dalam interaksi seorang remaja dengan lingkungan sekitarnya. Dan hal ini disertai dengan berkembangnya pergaulan anak dengan kelompok seusianya, dan bahkan mulai melihat teman-teman sebayanya sebagai pihak yang lebih dibandingkan dengan keluarganya.

PERUBAHAN YANG TERJADI DI AWAL MASA
Pada anak laki-laki dapat dilihat perubahan pada testikular atau penis, tumbuhnya jakun, tumbuhnya bulu pada wajah dan daerah kemaluan. Selain itu ada perubahan lain, misalnya suara anak laki-laki yang membesar, berkembangnya otot sehingga dada menjadi bidang dan bahu melebar. Selain itu tentunya jerawat dan bau tubuh yang khas. Hal ini merupakan perubahan fisik yang sangat mudah diamati oleh orang tua untuk mengetahui apakah sang anak sudah mulai mengalami pubertas atau belum. Perubahan yang terjadi pada anak perempuan dan anak laki-laki memang berbeda, dan masing-masing membutuhkan penanganan yang berbeda untuk masalah perkembangan fisik maupun psikologisnya.
PENDEKATAN ORANGTUA
Secara garis besar, hal yang dapat dilakukan oleh orangtua kepada anak remajanya, baik anak laki-laki maupun perempuan, dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan dan pola asuh yang dapat diterima serta dipahami oleh para anak remaja tersebut. Orangtua dapat memahami bahwa masa remaja berbeda dengan masa kanak-kanak ditinjau dari berbagai segi.  Untuk menangani dan menghadapi para remaja ini, orangtua dapat mulai mengubah ataupun menyesuaikan cara mereka melakukan komunikasi dengan para remajanya. Orangtua juga mulai lebih tegas dalam menetapkan aturan/ disiplin dan memberikan penjelasan yang dapat anak mengerti dari penetapan aturan tersebut. Orangtua juga dapat mengajak para remajanya untuk lebih kritis dalam memandang suatu permasalahan, mengajak mereka untuk melakukan banyak pertimbangan sebelum melakukan tindakan untuk menghadapi masalah yang ada. Orangtua juga dapat menjelaskan manfaat positif ataupun akibat yang dapat merugikan dari setiap alternatif penyelesaian masalah yang ada. Selain itu, yang tak kalah pentingnya, orangtua perlu memberikan penguatan motivasi kepada para remajanya agar mereka bisa menghadapi masa pubertas ini dengan pandangan dan sikap yang positif.
FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI TERJADI PUBERTAS
Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya pubertas adalah faktor keturunan. Ibu yang mengalami pubertas dini, umumnya dikuti pula dengan pola yang sama oleh anak perempuannya. Namun demikian ada juga faktor lain yang terlibat di dalamnya, misalnya masalah nutrisi yang berujung kepada pertumbuhan yang terlalu cepat atau lambat. Sementara itu bahan kimia atau hormon yang berada dalam makanan juga bisa berpengaruh pada terjadinya pubertas dini, walaupun memang masih diteliti secara lebih luas.
Banyak dijumpai anak dengan masalah obesitas yang cenderung mengalami pubertas dini. Sementara anak yang banyak berolahraga mengembangkan massa tubuh yang rendah, sehingga cenderung mencegah pubertas dini. Sementara itu dari sisi perkembangan psikologis yang menyertai pubertas juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya tontonan dewasa yang kerap muncul di televisi. Hal ini membuat anak lebih cepat tahu tentang berbagai hal yang harusnya menjadi konsumsi orang dewasa, sementara itu ia secara mental belum siap mengolahnya secara matang.
Akan mengalami depresi, gangguan perilaku, serta beragam kelainan psikologis lainnya.
Anak yang mengalami pubertas dini bisa mengalami dampak positif ataupun negatif. Contoh dari dampak positif dapat dilihat pada anak laki-laki dengan pubertas dini yang tentunya mempunyai tampilan fisik lebih dari teman-temannya. Ia lebih tinggi, lebih besar, lebih kuat. Ia mungkin lebih populer di antara teman-teman perempuannya, atau lebih dipilih masuk ke dalam tim olah raga, atau bahkan dipilih menjadi pemimpin kelompoknya. Hal ini bisa menimbulkan rasa percaya diri yang kuat, juga kemandirian menghadapi berbagai masalah.
Namun ada pula konsekuensi negatifnya, karena dengan fisik yang lebih, ia pun diharapkan menampilkan tingkah laku yang serupa dengan orang dewasa, termasuk juga tingkah laku yang negatif. Ia bisa jadi menjadi lebih agresif, sehingga potensial terlibat dalam konflik fisik. Selain itu mungkin saja terlibat dalam hubungan seks dini, hal yang harusnya belum menjadi konsumsi seorang remaja.
yang harus dipersiapkan untuk menghadapi masa pubertas.
Untuk anak perempuan, pubertas dini memang lebih kerap menimbulkan dampak negatif. Penampilan fisik yang berbeda dengan teman-teman sebaya membuatnya merasa malu dan berusaha menyembunyikan dirinya dengan segala perkembangan fisiknya. Ada yang berkembang menjadi gangguan makan, dengan diet yang berlebihan, sementara pada usia ini nutrisi yang baik akan mendukung perkembangan secara optimal. Ada pula yang berkembang menjadi gangguan depresi.
Sementara itu ada juga dampak positifnya karena dengan tubuh yang mendewasa dengan cepat, umumnya anak perempuan mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya yang lebih besar. Namun hal ini juga mengandung akibat lainnya, karena ia menjadi terekspos dengan cepat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seksual, hal yang dapat berujung pada hubungan seksual dini ataupun kehamilan.
Pada kedua jenis kelamin ini, mencoba-coba hal negatif, seperti rokok, obat-obatan, alkohol juga dapat terjadi. Hal ini mungkin diakibatkan oleh tekanan kelompok yang diikutinya, yang biasanya pun berusia lebih besar.



SAAT MEMASUKI MASA PUBER, NORMALNYA PAYUDARA BESAR SEBELAH ?

     Bentuk payudara yang tidak sama (asimetris) antara kanan dan kiri memang bisa membuat perempuan malu dan frustasi.



     Ukuran payudara yang asimetris ini hampir dialami oleh 50 persen perempuan, meski demikian beberapa diantaranya tidak terlalu signifikan perbedaannya sehingga terlihat seperti normal.

     Awalnya dimulai dengan tunas payudara dan sekitar dua tahun setelah periode menstrausi pertama payudara terus tumbuh sekitar 2-4 tahun lebih. Pada saat itulah kemungkinan terjadi perbedaan ukuran. Setelah seseorang berusia 21 tahun, maka pertumbuhan payudara akan berhenti dan akan berubah saat seseorang hamil atau menopause.

Selain faktor genetik ada pula hal lain yang bisa menyebabkan perbedaan ukuran payudara yaitu:

1. Obat yang dikonsumsi
Obat-obatan berbasis hormon seperti kontrasepsi bisa menyebabkan jaringan payudara tumbuh tapi tidak selalu di kedua payudara.

Tubuh dan jaringan payudara akan merespons peningkatan jumlah hormon dengan pembesaran kelenjar jaringan dan kadang menyebabkan pertumbuhan sementara. Kondisi ini biasanya tidak permanen, tapi jika asimetris tetap ada meskipun obat sudah dihentikan sebaiknya konsultasikan ke dokter.